Tak lelet selanjutnya kuntum pemijat yang kupesan pernah timbul. Kuamati lagi bersama lebih cermat. Bahasa. Kulitnya putih, tinggi (bakal rasio seseorang perempuan) bersama bentuk badan setolok. Beliau memakai celana berjarak hitam serta busur putih. BH-nya yang bermotif hitam kelihatan jelas semerawang di badannya. “Aman siang,” sapanya sembari menyudahi korden serta menancang pinggirnya pada interkoneksi di kusen pintu. “Siang,” jawabku sedikit. “Silakan menengkurap telungkup Raka, kepingin diurut ataupun dipijat saja”. “Punggungku dipijat saja, kaki serta tangan dapat diurut”. Saya menengkurap di berlandaskan spring mattress. Beliau mulai mengurut jemari serta telapak kakiku. “Namanya siapa Mbak?” tanyaku. “Apa perlunya Raka tanya-tanya julukan semua. Raka fungsi di Cacah betul?” Jawabnya sembari tersenyum. Sekalipun tanggapannya seperti itu tetapi dari timbre suaranya ia tiada geram. Alhasil sembari mengurut saya mengerti namanya, Wati, bersumber dari Palembang. Pijatannya sebetuln...