“Bolehlah, apa saja panggilannya terhadapku aku dapat segala, misalnya enggak mengejekku. Kira-hitung menjadi lambaian adik pribadi,” jawabku mengasihkan keleluasaan. “Song-song kasih Kak alias Uda karena kesudian & keterbukaannya” balasnya. Sesudah finis makan, saya terus beroperasi pergi sembari meman&gi sudut-sudut ruangannya & saya luang memesongkan perhatianku ke dalam kamar tidurnya di mana saya melirik badan terkapar tanpa baju sedianya. Kelihatannya beres, perempuan itulah sedianya yg jelampah di karena area tidur itu, yg di depannya tampak suatu TV colour sekitar 21 inc. Jantungku sekonyong-konyong deg-degan selagi saya melirik suatu celana colour terkapar di pelosok area tidur itu, sehingga saya sejenak membaygkan apabila perempuan yg anyar saja aku temani ucapan & makan bersama-sama itu kemungkinan besar enggak memakai celana, malahan yg aku pantau sedianya mulai dari bokong sampai penghabisan kaki tanpa baju. Akan tetapi pikiran itu aku seand...